97 Kasus Malaria di Pengujan, Kadinkes Kepri dr. Yosei Susanti : Tim PE Terpadu Akan Turun ke Lapangan Besok
Daftar Isi
Bintan | Liputankeprinews.com — Kasus malaria di Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, menjadi perhatian serius setelah Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau mengungkapkan terdapat sekitar 97 kasus malaria dan satu kasus kematian pada lansia berusia 86 tahun.
Di tengah kondisi tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, dr. Yosei Susanti, M.A.P., menyampaikan kepada awak media bahwa pihaknya akan turun langsung ke Desa Pengujan pada Rabu (28/10/2026) untuk memastikan kondisi di lapangan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai perkembangan kasus, pelaksanaan penanganan, serta kebutuhan intervensi lanjutan untuk menekan penyebaran malaria di wilayah tersebut.
Sebelumnya, dalam jawaban konfirmasi kepada Liputankeprinews.com, Dinas Kesehatan Provinsi Kepri memaparkan sejumlah langkah penanggulangan yang diklaim telah dilakukan, mulai dari koordinasi lintas sektor, penyelidikan epidemiologi, penyemprotan insektisida atau Indoor Residual Spraying (IRS), hingga survei darah massal atau Mass Blood Survey (MBS).
Namun, dengan jumlah kasus yang dilaporkan mencapai sekitar 97 orang, masyarakat membutuhkan kepastian mengenai pelaksanaan, hasil, dan efektivitas langkah-langkah tersebut di lapangan.
Kades Pengujan Ungkap Keterbatasan Anggaran
Sebelumnya, Kepala Desa Pengujan, Zulfitri, membenarkan adanya peningkatan kasus malaria yang berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan terakhir.
Saat dikonfirmasi Liputankeprinews.com, Zulfitri menjelaskan bahwa pemerintah desa telah melakukan koordinasi dengan pihak Puskesmas dalam upaya pencegahan dan penanganan. Pengasapan atau fogging juga disebut telah beberapa kali dilaksanakan di kawasan terdampak.
Meski demikian, ia mengakui keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan upaya pencegahan. Karena itu, penanganan dilakukan dengan memprioritaskan kawasan di sekitar warga yang terjangkit malaria.
Menurut Zulfitri, apabila ditemukan warga yang terserang malaria, kawasan terdekat menjadi prioritas untuk mendapatkan tindakan pengendalian.
Ia juga menyampaikan bahwa warga yang dibawa ke Puskesmas maupun rumah sakit telah mendapatkan penanganan dari tenaga medis.
Keterangan tersebut menunjukkan pentingnya dukungan dan koordinasi antarlembaga agar upaya pemerintah desa dan tenaga kesehatan dapat berjalan lebih optimal, terutama ketika jumlah kasus terus menjadi perhatian masyarakat.
Dinkes Kepri Paparkan Berbagai Upaya Penanggulangan
Dalam jawaban tertulis kepada media ini, Dinas Kesehatan Provinsi Kepri menyatakan telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan dan Puskesmas setempat.
Upaya yang disampaikan meliputi penyelidikan epidemiologi, pemeriksaan lingkungan, pemantauan vektor, IRS, serta pemeriksaan darah massal. Dinkes juga menyebut adanya koordinasi dengan tim terkait dari Kementerian Kesehatan RI untuk membahas strategi penanggulangan malaria di Kabupaten Bintan.
Selain itu, Dinkes menyatakan akan kembali melaksanakan sejumlah langkah penanganan, termasuk penyelidikan epidemiologi, IRS, dan pemeriksaan darah massal di daerah terdampak.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, dr. Yosei Susanti, M.A.P., yang menyatakan akan turun langsung ke Desa Pengujan, diharapkan dapat memastikan kesesuaian antara langkah penanggulangan yang disampaikan dengan kondisi faktual di lapangan.
Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kebutuhan penanganan, mengidentifikasi kendala, dan menentukan langkah lanjutan berdasarkan perkembangan kasus.
Sekitar 97 Kasus Malaria dan Satu Kematian
Dinkes Provinsi Kepri menyampaikan bahwa jumlah kasus malaria di Desa Pengujan mencapai sekitar 97 kasus.
Dalam keterangannya, Dinkes juga menyebut adanya satu kasus kematian pada lansia berusia 86 tahun. Menurut penjelasan yang diberikan, penyakit penyerta atau komorbid turut memperburuk kondisi pasien saat terserang malaria.
Informasi mengenai hubungan antara malaria, penyakit penyerta, dan kematian tersebut perlu merujuk pada penjelasan medis dari pihak berwenang.
Sementara itu, Dinkes Provinsi Kepri menyatakan tidak terdapat laporan kasus DBD dalam dua bulan terakhir.
Perbedaan antara malaria dan DBD penting dipahami masyarakat karena keduanya merupakan penyakit yang berbeda dan memerlukan pemeriksaan serta penanganan sesuai diagnosis medis.
Dinkes menjelaskan bahwa diagnosis malaria dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, baik menggunakan mikroskop maupun Rapid Diagnostic Test (RDT). Pasien yang dinyatakan positif akan mendapatkan pengobatan sesuai jenis parasit dan pedoman tata laksana malaria nasional.
Kadinkes Bintan Belum Memberikan Tanggapan
Di sisi lain, Liputankeprinews.com juga telah berupaya meminta konfirmasi kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan mengenai perkembangan kasus malaria di Desa Pengujan serta langkah penanganan yang telah dan akan dilaksanakan.
Namun, hingga berita ini disusun, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan masih belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang disampaikan media ini.
Keterangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan penting untuk melengkapi informasi mengenai pelaksanaan penanganan di tingkat daerah, mengingat koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, Puskesmas, dan pemerintah desa menjadi bagian penting dalam pengendalian malaria.
Media ini tetap membuka ruang bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bintan untuk memberikan penjelasan resmi demi memenuhi prinsip keberimbangan dan akurasi pemberitaan.
Publik Menanti Hasil Nyata Penanganan
Turunnya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri ke Desa Pengujan menjadi langkah yang patut ditunggu tindak lanjutnya.
Masyarakat membutuhkan kejelasan mengenai kondisi terkini, hasil pemantauan, efektivitas intervensi yang telah dilakukan, serta langkah konkret untuk mencegah bertambahnya kasus.
Evaluasi lapangan diharapkan tidak berhenti pada pendataan, tetapi juga menghasilkan rencana tindak lanjut yang terukur, dengan pembagian tanggung jawab yang jelas antara instansi terkait.
Di sisi lain, masyarakat diimbau mengikuti pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan, menggunakan perlindungan terhadap gigitan nyamuk, dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada malaria.
Liputankeprinews.com akan terus memantau perkembangan penanganan kasus malaria di Desa Pengujan, termasuk hasil kunjungan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri yang dijadwalkan pada Rabu (28/10/2026).
Masyarakat kini menantikan bukan hanya penjelasan mengenai langkah yang telah dilakukan, tetapi juga hasil evaluasi dan tindakan berkelanjutan agar penyebaran malaria di Desa Pengujan dapat dikendalikan.
---
(Martin.D C.ILJ).
Posting Komentar