📢 BREAKING NEWS Memuat berita terbaru...

Kepri Kaya Sumber Daya Ikan, Nelayan Desa Jang Ceritakan Potensi Ekonomi dari Laut

Daftar Isi
Penampakan hasil laut Desa Jang Karimun.

Karimun, Kepri | Liputankeprinews.com — Kepulauan Riau (Kepri) dikenal sebagai salah satu wilayah kepulauan dengan potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang beragam. Dari ikan berukuran kecil hingga ikan bernilai ekonomi tinggi, hasil laut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pesisir di berbagai daerah di Kepri.(21/9/26).

Potensi tersebut juga dirasakan masyarakat nelayan di Desa Jang, Kabupaten Karimun. Bagi sebagian masyarakat setempat, aktivitas melaut bukan sekadar mata pencaharian, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah seorang nelayan yang biasa dipanggil Bah menceritakan pengalaman dan potensi hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat Desa Jang.

Kepada Liputankeprinews.com, saat ditemui di kediamannya pada akhir Agustus 2026, Bah mengatakan sebagian masyarakat Desa Jang menggantungkan kehidupan dari hasil tangkapan laut.

Menurutnya, pada musim tertentu nelayan dapat memperoleh hasil tangkapan ikan yang memiliki nilai jual cukup tinggi. Salah satunya adalah ikan kurau, yang menurut Bah memiliki musim tangkap tertentu dan tidak setiap saat dapat diperoleh dalam jumlah banyak.

"Kalau musim ikan kurau, biasanya hanya menjaringnya setahun sekali. Harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per kilogram," kisah Bah.

Ia menjelaskan, untuk menangkap ikan kurau, satu pompong biasanya dioperasikan oleh sekitar tiga orang nelayan. Hasil tangkapan kemudian dibagi sesuai kesepakatan di antara mereka.

Sambil memperlihatkan jaring yang berada di pondok belakang rumahnya, Bah juga menceritakan jenis ikan lain yang memiliki nilai ekonomi, salah satunya ikan memparang.

Menurut dia, ikan tersebut dapat memiliki bobot sekitar dua hingga tiga kilogram per ekor dan menjadi salah satu hasil tangkapan yang bernilai bagi nelayan.

Selain menggunakan pompong, sebagian nelayan di Desa Jang juga masih menggunakan sampan Melayu untuk mencari ikan di perairan yang tidak terlalu jauh dari permukiman.

Meski menggunakan sarana sederhana, hasil tangkapan yang diperoleh, menurut Bah, tetap dapat memberikan pendapatan bagi nelayan.

Dari Nelayan ke Pedagang Ikan

Rantai ekonomi hasil laut di wilayah tersebut tidak berhenti pada nelayan. Setelah ikan didaratkan, hasil tangkapan biasanya dibeli oleh pedagang atau toke ikan.

Bah menuturkan, ikan yang telah terkumpul kemudian dipasarkan kembali, termasuk untuk perdagangan ke luar daerah dan menurut keterangannya sebagian komoditas hasil laut tersebut dapat dipasarkan hingga Singapura dan Malaysia.

Aktivitas perdagangan tersebut turut mendorong sebagian nelayan memiliki pompong dengan ukuran dan kapasitas yang lebih besar untuk menunjang kegiatan penangkapan ikan.

Bah bahkan mengisahkan bahwa hasil dari aktivitas melaut telah membantu meningkatkan perekonomian sebagian masyarakat.

Ia menyebut terdapat masyarakat Desa Jang yang mampu mengumpulkan biaya untuk menunaikan ibadah haji dari hasil usaha yang berkaitan dengan aktivitas perikanan.

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana laut memiliki peran penting dalam menopang kehidupan masyarakat pesisir.

Namun, potensi tersebut tentu membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan agar sumber daya ikan tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.

Desa Jang hanyalah salah satu gambaran dari potensi perikanan yang terdapat di Kabupaten Karimun. Jika potensi tersebut dilihat dalam konteks wilayah Kepri yang terdiri dari banyak pulau dan kawasan pesisir, sektor kelautan dan perikanan memiliki ruang ekonomi yang sangat luas.

Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Laut juga menjadi sumber penghidupan, mata rantai perdagangan, sekaligus bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Kepulauan Riau.

Liputankeprinews.com — Tegak Lurus, Berimbang dan Berbasis Konfirmasi.

---
(Aman).

Posting Komentar