📢 BREAKING NEWS Memuat berita terbaru...

Bertemu Menko AHY, Mahasiswa Sumba Timur Bawa Suara Anak-Anak Pelosok NTT

Daftar Isi
“Anak-anak di pelosok tidak boleh kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota.”
— Sandiang Kaya Ndapa Namung

Jakarta | Liputankeprinews.com — Persoalan pemerataan pembangunan dan pendidikan di wilayah pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mendapat sorotan. Aspirasi tersebut disampaikan Sandiang Kaya Ndapa Namung, mahasiswa asal Kabupaten Sumba Timur, saat bertemu Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).(12/8/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Sandiang menyampaikan sejumlah persoalan yang masih dihadapi masyarakat di wilayah pelosok, mulai dari kondisi infrastruktur jalan, keterbatasan akses listrik dan internet, fasilitas pendidikan, hingga berbagai kebutuhan pelayanan dasar masyarakat.

Menurut Sandiang, pembangunan di daerah terpencil perlu mendapat perhatian yang lebih serius agar masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan maupun perkotaan tetap memperoleh hak yang sama dalam menikmati pembangunan.

Kondisi Sekolah di Pelosok Sumba Timur Jadi Perhatian

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kondisi SD Paralel Lailara di Desa Praibakul, Kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur.
Sekolah tersebut dilaporkan masih memiliki keterbatasan sarana dan prasarana. Bangunan sekolah berukuran sekitar 12 x 6 meter itu masih menggunakan dinding bambu, beratap seng, dan berlantai tanah.

Keterbatasan fasilitas juga terlihat dari sejumlah meja, kursi, serta papan tulis yang masih dipinjam dari sekolah lain. Sebagian fasilitas yang tersedia juga mengalami kerusakan.

Di sisi lain, keterbatasan akses listrik dan internet menjadi tantangan tersendiri dalam mendukung proses pembelajaran. Sekolah tersebut juga belum memiliki rumah dinas bagi guru.

Yang cukup memprihatinkan, pembangunan bangunan sekolah tersebut disebut dilakukan melalui swadaya orang tua murid.

Kondisi tersebut menggambarkan masih adanya kesenjangan fasilitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan sejumlah daerah terpencil.

“Anak-anak di pelosok tidak boleh kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota. Mereka juga anak Indonesia, mereka juga punya mimpi dan berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar Sandiang.

Pembangunan Harus Dirasakan hingga Pelosok

Sandiang menilai keberhasilan pembangunan tidak semata-mata dapat dilihat dari besarnya nilai proyek maupun banyaknya pembangunan fisik yang dilakukan pemerintah.

Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan juga harus dilihat dari sejauh mana manfaat pembangunan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang berada di wilayah terpencil.

“Infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik. Jalan, listrik, internet, dan sekolah adalah jalan menuju masa depan anak-anak kita,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dapat memperkuat perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terpencil.

Menurut Sandiang, persoalan yang terjadi di daerah jangan sampai hanya menjadi catatan dan cerita yang berulang dari tahun ke tahun tanpa penyelesaian yang nyata.

“Kami tidak ingin persoalan di daerah hanya menjadi cerita yang terus berulang. Harapan kami, pembangunan benar-benar hadir sampai ke pelosok, agar tidak ada anak yang merasa dilupakan hanya karena lahir dan tumbuh jauh dari pusat kota,” pungkasnya.

Di Balik Dinding Bambu, Ada Mimpi Anak Indonesia

Persoalan SD Paralel Lailara menjadi gambaran bahwa pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan penting yang membutuhkan perhatian berbagai pihak.
Di balik dinding bambu dan lantai tanah tersebut, terdapat anak-anak yang setiap hari datang ke sekolah untuk belajar dan mengejar cita-cita.

Keterbatasan fasilitas tidak semestinya menjadi batas bagi masa depan mereka.
Mereka mungkin belajar dalam keterbatasan, tetapi mimpi mereka tidak pernah terbatas.

---
(Kontributor Media)

Posting Komentar