📢 BREAKING NEWS Memuat berita terbaru...

Pemuda Mahasiswa Sandiang Kaya Ndapa Namung Serukan Pentingnya Merawat Demokrasi dan Menolak Otoritarianisme di Lomba Pidato Bulan Bung Karno

Daftar Isi
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Kupang | Liputankeprinews.com – Pemuda mahasiswa, Sandiang Kaya Ndapa Namung, tampil membawakan pidato bertema "Merawat Hak Demokrasi Rakyat, Menolak Otoritarianisme" dalam ajang Lomba Pidato Bulan Bung Karno yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di hadapan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT beserta jajaran, dewan juri, panitia, tamu undangan, dan para peserta, Sandiang membuka pidatonya dengan mengajak seluruh hadirin memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan mengikuti kegiatan yang sarat dengan semangat kebangsaan tersebut.

Mengawali pidatonya, Sandiang mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, yang berbunyi:

"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Menurutnya, kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan bangsa saat ini bukan lagi menghadapi penjajahan fisik, melainkan menjaga dan merawat nilai-nilai demokrasi agar tetap hidup di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam pidatonya, Sandiang menegaskan bahwa demokrasi merupakan fondasi utama berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Demokrasi, menurutnya, tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan pemilihan umum setiap lima tahun sekali, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap hak-hak rakyat dalam kehidupan sehari-hari.

"Demokrasi hidup ketika rakyat bebas menyampaikan pendapat tanpa rasa takut, ketika hukum ditegakkan secara adil tanpa membedakan status sosial maupun jabatan, serta ketika kritik dipandang sebagai bentuk kepedulian, bukan ancaman," ujar Sandiang.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa otoritarianisme kerap muncul secara perlahan ketika masyarakat mulai takut menyampaikan pendapat, kritik dianggap sebagai musuh, dan kekuasaan tidak lagi diawasi secara sehat.

Karena itu, menurutnya, menolak otoritarianisme bukan berarti menolak negara atau pemerintah, melainkan menjaga agar penyelenggaraan kekuasaan tetap berjalan sesuai konstitusi, hukum, serta nilai-nilai demokrasi yang menjadi cita-cita bangsa.

Sebagai bagian dari generasi muda, Sandiang mengajak kaum muda Indonesia untuk menjadi penjaga demokrasi dengan mengedepankan dialog, menghargai perbedaan pendapat, melawan hoaks dan disinformasi, serta menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab, khususnya di era digital yang penuh tantangan.

Ia juga menekankan pentingnya literasi digital agar media sosial dapat menjadi ruang pendidikan politik yang sehat, bukan sarana penyebaran fitnah, ujaran kebencian, maupun provokasi yang berpotensi memecah persatuan bangsa.

Menutup pidatonya, Sandiang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat komitmen dalam menjaga demokrasi, menghormati hak-hak rakyat, serta menolak segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan.

"Demokrasi yang dirawat akan melahirkan keadilan, dan keadilan akan melahirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia," tutupnya yang disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.

Melalui pidato tersebut, Sandiang Kaya Ndapa Namung menunjukkan komitmennya sebagai pemuda mahasiswa yang peduli terhadap kehidupan demokrasi, supremasi hukum, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila, sekaligus mengajak generasi muda untuk terus menjaga persatuan bangsa melalui partisipasi aktif dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

---
(Mitra Redaksi).

Posting Komentar