15 Kali WTP, Warga Pengudang Masih Berburu Sinyal dan Hidup di Bawah Tiang Listrik Kayu
Daftar Isi
Bintan | Liputankeprinews.com – Pemerintah Kabupaten Bintan kembali menorehkan prestasi dalam tata kelola keuangan daerah. Untuk ke-15 kalinya secara berturut-turut, Kabupaten Bintan berhasil meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2025.
Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Bupati Bintan, Roby Kurniawan, saat penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) yang berlangsung di Auditorium Kantor BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau pada Selasa (2/6/2026).
Opini WTP merupakan bentuk penilaian bahwa laporan keuangan pemerintah daerah telah disusun sesuai standar akuntansi pemerintahan dan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Capaian ini pun menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Bintan.
Namun di balik prestasi tersebut, masih terdapat persoalan mendasar yang dirasakan sebagian masyarakat, khususnya terkait akses infrastruktur dasar.
Salah satunya dialami warga Kampung Sumpat Darat, Desa Pengudang, Kecamatan Teluk Sebong. Wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil sayuran di Kabupaten Bintan itu hingga kini masih menghadapi keterbatasan jaringan telekomunikasi dan sarana kelistrikan yang dinilai belum memadai.
Keluhan tersebut disampaikan seorang warga yang tinggal di Jalan Ismail RT 004 RW 002 saat ditemui wartawan pada Rabu (10/6/2026).
"Kebetulan sekali bisa bertemu wartawan. Tolong sampaikan kondisi kami. Di sini hampir tidak ada sinyal internet. Kalau mau menelepon atau mengirim pesan, kami harus berjalan ke tempat yang lebih tinggi dulu baru bisa terhubung," ungkapnya.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi warga tidak hanya terkait jaringan komunikasi. Kondisi pasokan listrik juga disebut sering mengalami gangguan akibat tegangan yang tidak stabil.
"Lampu di rumah sering redup lalu tiba-tiba terang lagi. Tegangannya tidak menentu. Belum lagi tiang listriknya yang semuanya terbuat dari kayu dan sering miring, bahkan tumbang kalau hujan atau angin kencang. Kami terus merasa takut kalau sampai ada yang celaka," tambahnya.
Kondisi tersebut dinilai cukup ironis mengingat Desa Pengudang merupakan salah satu wilayah yang menopang sektor pertanian lokal. Ketersediaan listrik yang stabil dan akses komunikasi yang memadai menjadi kebutuhan penting untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Untuk memperoleh penjelasan dari pihak pemerintah desa, wartawan mencoba menghubungi Sekretaris Desa Pengudang pada Kamis (12/6/2026). Namun yang bersangkutan belum dapat memberikan keterangan karena sedang mendampingi orang tuanya menjalani pengobatan. Informasi tersebut disampaikan melalui pesan singkat yang turut disertai dokumentasi kondisi orang tuanya yang sedang sakit.
Situasi ini memunculkan pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat. Sejauh mana keberhasilan pengelolaan administrasi keuangan daerah dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh warga? Apakah capaian opini WTP yang terus diraih telah sejalan dengan pemerataan pembangunan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat hingga ke pelosok desa?
Prestasi 15 kali meraih opini WTP tentu layak mendapat apresiasi. Namun bagi warga Kampung Sumpat Darat, ukuran keberhasilan pembangunan tidak hanya tercermin dari laporan keuangan yang tertata rapi, melainkan juga dari hadirnya listrik yang aman, jaringan komunikasi yang memadai, serta pelayanan dasar yang benar-benar dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
---
(Martin.D).
Posting Komentar