Aktivis Mahasiswa Sumba Timur Soroti Dugaan Kekerasan terhadap PMI di Malaysia

Table of Contents
Kupang | Liputankeprinews.com — Aktivis mahasiswa asal Kabupaten Sumba Timur, Sandiang Kaya Ndapa Namung, menyoroti dugaan perlakuan tidak manusiawi yang dialami seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumba Timur bernama Hona Nalu yang bekerja di Johor Bahru, Malaysia.(19/5/2026).

Kasus tersebut menjadi perhatian publik setelah informasi mengenai kondisi korban beredar luas di media sosial dan memicu keprihatinan masyarakat, khususnya warga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan informasi yang berkembang, Hona Nalu diduga mengalami berbagai bentuk pelanggaran hak selama bekerja di Malaysia. Korban disebut tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan keluarga, gajinya diduga ditahan oleh pihak majikan, hingga adanya dugaan penyekapan serta kekerasan fisik maupun verbal.

Menanggapi hal tersebut, Sandiang Kaya Ndapa Namung menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus mengecam keras apabila dugaan perlakuan tersebut benar terjadi.

“Pekerja Migran Indonesia adalah pahlawan devisa yang bekerja keras demi membantu keluarga dan daerahnya. Mereka tidak pantas diperlakukan secara tidak manusiawi. Negara harus hadir dan memberikan perlindungan nyata kepada seluruh PMI,” tegas Sandiang, Senin (18/5/2026).

Ia mendesak Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Kementerian Luar Negeri, serta KBRI Kuala Lumpur untuk segera mengambil langkah cepat guna memastikan keselamatan korban dan memfasilitasi pemulangannya secara aman ke Indonesia.

Selain itu, ia meminta aparat serta otoritas terkait untuk mengusut tuntas dugaan pelanggaran yang dilakukan terhadap korban sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kasus seperti ini tidak boleh dianggap biasa. Jika benar terjadi penyiksaan maupun penyekapan, maka hal tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan hukum ketenagakerjaan internasional,” lanjutnya.

Sandiang juga mengajak masyarakat, kalangan mahasiswa, organisasi kepemudaan, hingga diaspora Sumba di berbagai daerah agar turut mengawal kasus tersebut demi memastikan korban memperoleh perlindungan dan keadilan.

Menurutnya, perlindungan terhadap PMI harus menjadi perhatian bersama, mengingat banyak masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya Sumba Timur, menggantungkan harapan ekonomi keluarga melalui pekerjaan di luar negeri.

Ia berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada penempatan tenaga kerja, tetapi juga memperkuat sistem pengawasan dan perlindungan terhadap PMI sejak proses keberangkatan hingga saat bekerja di negara penempatan.

Hingga kini, kasus yang menimpa Hona Nalu masih menjadi perhatian publik dan diharapkan segera mendapatkan penanganan serius dari pihak berwenang demi menjamin keselamatan korban serta perlindungan bagi seluruh pekerja migran Indonesia.

---
(Mitra Redaksi).

Posting Komentar