AI Makin Cerdas, Manusia Makin Malas Membaca?
Table of Contents
Oleh: Dr. Yunada Arpan, S.H., S.E., M.M
(Dosen STIE Gentiaras Bandar Lampung)
Lampung Barat | Luputankepriews.com -Setiap tanggal 17 Mei, bangsa Indonesia memperingati dua momentum penting dalam perjalanan literasi nasional, yakni Hari Buku Nasional (Harbuknas) dan Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Meski sering berlalu tanpa gegap gempita, keduanya menyimpan pesan kebudayaan yang sangat mendalam: menjaga tradisi membaca dan membangun peradaban bangsa melalui literasi.
Sejarah mencatat, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia resmi berdiri pada 17 Mei 1980 sebagai institusi negara yang bertugas menjaga, mengembangkan, serta menyediakan akses pengetahuan bagi masyarakat. Sementara itu, Hari Buku Nasional mulai diperingati sejak tahun 2002 atas gagasan Menteri Pendidikan saat itu, Abdul Malik Fadjar. Penetapan Harbuknas dilatarbelakangi keprihatinan terhadap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia dan lemahnya budaya literasi nasional.
Penetapan kedua momentum tersebut pada tanggal yang sama tentu bukan sebuah kebetulan. Hari Buku Nasional dan Hari Perpustakaan Nasional memiliki keterkaitan yang erat. Buku membutuhkan perpustakaan sebagai ruang hidupnya, sementara perpustakaan membutuhkan budaya membaca agar tetap relevan dalam kehidupan masyarakat.
Pada HUT ke-46 tahun ini, Perpusnas mengusung tema “46 Tahun Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa.” Sementara Pekan Literasi Hari Buku Nasional 2026 sejalan dengan semangat Hardiknas, yakni “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Kedua tema tersebut menghadirkan satu pesan besar bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan fondasi utama dalam membangun kualitas pendidikan dan martabat bangsa.
Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa kedua momentum ini penting diperingati? Apa urgensi buku dan perpustakaan di tengah dunia yang kini dikuasai teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI)?
Jawabannya sederhana namun sangat mendasar. Peradaban manusia dibangun oleh tradisi membaca dan pengetahuan. Bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang unggul secara teknologi, tetapi juga bangsa yang memiliki budaya literasi yang kuat.
Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat, budaya membaca justru menghadapi tantangan serius.
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang mampu menulis, merangkum, bahkan menjawab berbagai pertanyaan hanya dalam hitungan detik memang memberikan kemudahan luar biasa bagi kehidupan manusia. Namun di sisi lain, kemudahan yang berlebihan berpotensi melahirkan kemalasan intelektual.
Hari ini, masyarakat semakin terbiasa memperoleh informasi secara instan.
Tidak sedikit orang merasa cukup hanya membaca judul tanpa menelaah isi secara utuh. Informasi singkat di media sosial lebih menarik dibanding membaca buku secara mendalam. Fenomena ini menunjukkan terjadinya pergeseran dari budaya deep reading menuju budaya surface reading atau membaca cepat dan dangkal.
Filsuf Inggris Francis Bacon (1561–1626) dalam esai klasiknya Of Studies pernah mengatakan, “Reading maketh a full man.” Membaca membentuk manusia yang utuh dan berpengetahuan. Kutipan ini terasa semakin relevan di era AI saat ini. Sebab teknologi hanya mampu menyediakan informasi, tetapi tidak dapat menggantikan proses berpikir reflektif yang lahir dari tradisi membaca.
Dalam konteks pendidikan, kondisi ini tentu mengkhawatirkan. Pendidikan yang bermutu tidak lahir dari budaya literasi yang dangkal. Pendidikan membutuhkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif sesuatu yang dibangun melalui interaksi serius dengan buku dan ilmu pengetahuan.
Karena itu, perpustakaan dan buku tidak boleh dipandang sebagai simbol masa lalu yang kalah oleh teknologi. Keduanya justru menjadi benteng penting dalam menjaga ketahanan intelektual masyarakat.
Perpustakaan modern tidak cukup hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat peradaban pengetahuan: ruang diskusi, riset, kreativitas, serta penguatan literasi digital yang sehat.
Rendahnya budaya membaca dapat berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Bangsa yang kehilangan tradisi literasi akan mudah terjebak dalam budaya emosional, reaktif, dan miskin argumentasi. Padahal, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan juga kualitas intelektual masyarakatnya.
Lalu, siapa yang bertanggung jawab terhadap penguatan budaya literasi ini? Jawabannya tentu kita semua.
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama. Anak yang tumbuh akrab dengan buku memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pembaca aktif. Selanjutnya, sekolah dan perguruan tinggi harus mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam proses pembelajaran. Perpustakaan sekolah maupun kampus tidak boleh sekadar menjadi pelengkap administrasi akreditasi, tetapi harus menjadi pusat aktivitas akademik dan pengembangan wawasan.
Di sisi lain, pemerintah memiliki peran paling strategis sebagai regulator dan fasilitator literasi nasional. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan perbukuan, memperluas akses perpustakaan, menyediakan buku murah dan berkualitas, serta meningkatkan literasi digital masyarakat secara merata.
Keberadaan AI sesungguhnya tidak harus diposisikan sebagai musuh literasi. Teknologi AI justru dapat menjadi alat untuk memperkuat budaya membaca apabila digunakan secara bijak. Namun manusia tetap harus menjadi subjek yang berpikir, bukan sekadar konsumen jawaban instan.
Pemikir pendidikan asal Brasil, Paulo Freire (1921–1997), menegaskan bahwa literasi adalah jalan pembebasan manusia. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan proses membangun kesadaran kritis terhadap realitas sosial.
Momentum 17 Mei 2026 semestinya menjadi panggilan moral untuk membangkitkan kembali tradisi membaca di tengah serbuan AI dan budaya serba instan. Sebab pada akhirnya, teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi kualitas manusia dan budaya literasi tetap menjadi kunci utama kemajuan sebuah bangsa.
Buku menajamkan nalar, perpustakaan menyimpan jejak peradaban, dan literasi adalah fondasi kokoh untuk memartabatkan bangsa.
---
(S. Yanto).
Posting Komentar