Warga Desa Karanganyar Keluhkan, Alami Krisis Air Bersih, Diduga Akibat Aktivitas Perusahaan Air Minum Kemasan

Table of Contents
Kabupaten Bekasi I Liputankeprinews.com – Warga Kampung Kedaung RT 02, Desa Karanganyar, Kecamatan Karang Bahagia, Kabupaten Bekasi, saat ini tengah mengalami krisis air bersih yang semakin parah dalam beberapa pekan terakhir, Kamis (16/4/2026). 

Sejumlah sumur warga yang sebelumnya memiliki debit air stabil kini dilaporkan mulai mengering.

Warga menduga krisis ini berkaitan dengan aktivitas sebuah perusahaan air minum dalam kemasan, CV. Fayyad Fahra Rahma Bekasi, yang memproduksi merek Mine Qua. Perusahaan tersebut berlokasi di Kampung Pulo Bambu Tua, Desa Karangsentosa, dan berada di tengah lingkungan permukiman warga yang disebut sebagai zona hijau.

Menurut keterangan warga, perusahaan tersebut diduga melakukan pengambilan air tanah dalam jumlah besar tanpa mengantongi izin resmi dari instansi terkait.

“Saat ini air sumur kami sangat sulit didapat. Padahal sebelumnya tidak pernah kering,Kami menduga ada aktivitas pengambilan air tanah secara besar-besaran yang menyebabkan cadangan air warga berkurang drastis,” ujar salah satu warga.

Selain berdampak pada ketersediaan air bersih, warga juga mengkhawatirkan potensi dampak jangka panjang seperti penurunan permukaan tanah (Land Subsidence) yang dapat mengancam keselamatan bangunan di sekitar lokasi.

Warga mendesak Dinas Sumber Daya Air, Dinas Lingkungan Hidup, serta instansi terkait lainnya untuk segera melakukan investigasi lapangan dan memeriksa legalitas operasional perusahaan tersebut. Mereka meminta adanya tindakan tegas apabila ditemukan pelanggaran, termasuk penghentian aktivitas perusahaan demi melindungi kepentingan masyarakat.

Upaya konfirmasi kepada pihak perusahaan melalui pesan WhatsApp hingga saat ini belum mendapatkan tanggapan.

"Di sisi lain, Sekretaris Jenderal DPD LSM Prabhu Indonesia Jaya Kabupaten Bekasi, Ujang HS, menyampaikan bahwa keluhan warga merupakan hal yang wajar, terutama menjelang musim kemarau, keluhan warga sangat masuk akal. Selain berpotensi menyebabkan krisis air bersih, aktivitas pengambilan air tanah yang berlebihan juga dapat memicu penurunan permukaan tanah dalam jangka panjang,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dugaan persoalan ketenagakerjaan di perusahaan tersebut, termasuk kemungkinan pekerja yang belum terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Ia meminta Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Bekasi untuk turut melakukan pemeriksaan.

"Kami berharap dinas terkait tidak menutup mata dan segera mengambil langkah tegas. Kami juga akan melaporkan persoalan ini secara resmi agar dapat segera ditindaklanjuti,” tegasnya.

---
(SW).

Posting Komentar