Mahasiswa FISIP UNDANA Gelar Mimbar Bebas, Soroti Momentum Pengukuhan Guru Besar Dekan
Table of Contents
Kupang, NTT | Liputankeprinews.com — Organisasi mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (UNDANA) menggelar kegiatan mimbar bebas di pelataran fakultas, Rabu (08/04/2026). Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi, kritik, dan refleksi mahasiswa dalam merespons momentum pengukuhan Guru Besar Dekan FISIP UNDANA, Prof. Dr. William Djani, M.Si.
Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa lintas program studi di lingkungan FISIP UNDANA, yang memanfaatkan forum terbuka itu untuk menyampaikan gagasan, aspirasi, serta kritik konstruktif terhadap dinamika akademik dan kebijakan kampus.
Salah satu peserta, aktivis mahasiswa Program Studi Sosiologi, Sandiang Kaya Ndapa Namung, dalam orasinya menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa dalam mimbar bebas bukan sekadar formalitas, melainkan representasi suara kolektif civitas akademika.
“Hari ini kita berdiri di sini bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi sebagai suara suara dari nurani akademik, suara dari realitas sosial, dan suara dari harapan akan perubahan,” ujarnya di hadapan peserta.
Menurutnya, momentum pengukuhan Guru Besar tidak boleh dimaknai sebatas seremoni akademik, tetapi harus menjadi titik refleksi bersama untuk menilai sejauh mana kampus mampu menghadirkan ruang yang adil, kritis, dan berpihak pada kebenaran.
Dalam forum tersebut, mahasiswa juga menyoroti berbagai isu, mulai dari keberpihakan kebijakan kampus, ruang partisipasi mahasiswa, hingga peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan sosial di tengah masyarakat.
Sebagai mahasiswa Sosiologi, Sandiang menekankan pentingnya kepekaan terhadap realitas sosial, tidak hanya terbatas pada pemahaman teori di ruang kelas, tetapi juga pada kemampuan membaca ketimpangan dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar.
Ia juga mengajukan sejumlah pertanyaan reflektif kepada civitas akademika, di antaranya:
- Apakah kampus telah menjadi ruang yang benar-benar mendengar suara mahasiswa?
- Apakah kebijakan yang diambil telah berpihak pada kepentingan bersama?
- Sejauh mana keberanian mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran?
Kegiatan mimbar bebas ini dinilai sebagai indikator masih terbukanya ruang dialog di lingkungan kampus. Namun demikian, mahasiswa mengingatkan agar ruang tersebut tidak berhenti pada simbolisme semata, melainkan benar-benar menjadi wadah pertukaran gagasan dan kritik yang konstruktif.
“Kita tidak datang untuk melawan tanpa arah. Kita datang dengan kesadaran, dengan argumen, dan dengan harapan,” tegas Sandiang.
Ia berharap kampus dapat terus berkembang menjadi institusi yang tidak hanya mencetak lulusan akademik, tetapi juga melahirkan pemikir kritis dan agen perubahan di tengah masyarakat.
Di akhir orasinya, ia mengajak seluruh mahasiswa untuk memanfaatkan ruang mimbar bebas secara bijak, menjaga etika, serta menjunjung tinggi nilai-nilai intelektual dalam menyampaikan aspirasi.
“Perubahan tidak lahir dari diam perubahan lahir dari keberanian untuk bersuara,” tutupnya.
---
(Kontributor Media).
Posting Komentar