Warga Ambat Jaya Ragukan Hasil Pengukuran PT SI, Nilai Berpihak ke PT Saipem

Table of Contents

Karimun| Liputankeprinews.com — Warga Kampung Ambat Jaya, Desa Pangke Barat, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, menduga hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan oleh PT Surveyor Indonesia (PT SI) berpihak kepada PT Saipem. Pasalnya, hasil pengukuran debu blasting yang selama ini disampaikan selalu dinyatakan masih berada di bawah ambang batas.

Dugaan tersebut mencuat dalam pertemuan antara tokoh masyarakat Ambat Jaya, Kepala Desa Pangke Barat, serta sejumlah awak media, yang berlangsung di kantor desa, Senin (19/1/2026). 

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut atas keluhan warga terkait dampak debu blasting, kebisingan, serta bau menyengat tinner saat aktivitas pengecatan yang diduga berasal dari kegiatan PT Saipem sejak tahun 2013.

Dalam pertemuan itu, warga Ambat Jaya diwakili oleh Sahar, Muslim, Sukur, dan Ajis. Sementara dari unsur media hadir lima wartawan dari berbagai media online biro Karimun.

Kepala Desa Pangke Barat, Heraidil, menjelaskan bahwa PT Saipem secara rutin melakukan pengukuran kualitas udara setiap enam bulan sekali melalui pihak ketiga.

“PT Saipem rutin setiap enam bulan melakukan pengukuran kualitas udara melalui pihak ketiga, yakni PT Surveyor Indonesia,” ujar Heraidil.

Ia menambahkan, berdasarkan laporan hasil pengukuran PT SI, kualitas udara di sekitar area aktivitas perusahaan dinyatakan masih berada di bawah ambang batas dan dianggap aman.

“Hasil pengukuran PT SI dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup, ke PT Saipem, dan juga ditembuskan ke kantor desa. 
Hasilnya menyebutkan kualitas udara masih di bawah ambang batas, artinya aman dan tidak bermasalah,” jelasnya.

Meski demikian, Heraidil menegaskan pihak desa akan kembali memanggil PT Saipem untuk duduk bersama warga guna membahas keluhan yang telah menjadi perhatian publik.

“Insya Allah, dengan adanya keluhan warga yang sudah menjadi konsumsi publik melalui pemberitaan media online, kami akan menghubungi kembali pihak PT Saipem untuk memediasi permasalahan ini,” ujarnya.

Sementara itu, keempat tokoh warga Ambat Jaya yang hadir menyampaikan kekecewaan terhadap hasil pengukuran kualitas udara yang selama ini selalu menyatakan kondisi aman. Mereka menyebut hasil tersebut sebagai “lagu lama”.

Menurut warga, PT Surveyor Indonesia merupakan subkontraktor PT Saipem, sehingga mereka meragukan independensi hasil pengukuran tersebut.

“Mana mungkin subcon mau memojokkan maincon-nya. Apalagi pengukuran tidak dilakukan saat debu blasting benar-benar bertebaran ke permukiman warga. Itu ‘lagu lama’,” tegas salah satu warga.

Warga juga meminta Kepala Desa Pangke Barat untuk kembali mengkondisikan pertemuan dengan PT Saipem guna mencari solusi yang dinilai adil dan berpihak kepada masyarakat Ambat Jaya. Bahkan, warga menyatakan siap mengajak kepala desa turun langsung ke lokasi saat debu blasting kembali memasuki area permukiman.

Terima kasih Pak Kades atas pertemuan hari ini. Kami berharap permasalahan debu blasting yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini dapat dibahas kembali dan dicarikan solusi yang berkeadilan bagi warga Ambat Jaya,” ujar perwakilan warga.

Hingga berita ini diterbitkan, Liputankeprinews.com masih berupaya melakukan konfirmasi dan klarifikasi kepada pihak PT Saipem serta instansi terkait guna memperoleh keterangan berimbang.

---
(Samsul).

Posting Komentar