Ketua Laskar Lampung Tengah Soroti Potensi Kegaduhan Transisi Kepengurusan DPD II Golkar

Table of Contents

Lampung Tengah | Liputankeprinews.com  – Proses transisi kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kabupaten Lampung Tengah dinilai berpotensi menimbulkan kegaduhan internal. Hal tersebut mencuat seiring memanasnya dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Golkar setempat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, terjadi tarik-menarik pengaruh antar-kader untuk memperebutkan posisi Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KSB). Ketua dan Sekretaris DPD II Golkar Lampung Tengah periode sebelumnya, Musa Ahmad dan Febriyantoni, yang masa jabatannya berakhir pada 30 Juli 2025, disebut masih memiliki peran dan pengaruh kuat dalam struktur dan basis kader Golkar di daerah tersebut.

Namun demikian, muncul ketegangan akibat adanya kader-kader baru yang dinilai ingin menggeser posisi kader lama tanpa mempertimbangkan rekam jejak dan kontribusi mereka dalam membesarkan Partai Golkar di Lampung Tengah.

Situasi semakin memanas ketika sebanyak 28 Pengurus Kecamatan (PK) Golkar disebut menjadi rebutan dukungan dalam tahapan pra-Musda. Musa Ahmad, saat ditemui awak media, menegaskan pihaknya akan bersikap tegas apabila Musda tidak berjalan secara demokratis.

“Jika Musda nanti tidak demokratis dan ada indikasi pemaksaan kehendak dari DPD I Provinsi Lampung untuk mengondisikan figur tertentu, maka patut dicurigai adanya praktik tidak sehat, termasuk dugaan gratifikasi,” ujar Musa Ahmad.

Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Laskar Lampung Tengah, Yunisa Putra, angkat bicara. Ia mengingatkan seluruh elite dan kader Golkar agar menahan diri demi menjaga keamanan dan ketentraman masyarakat Lampung Tengah.

Menurut Yunisa, saat ini Lampung Tengah masih menghadapi berbagai persoalan pemerintahan, termasuk isu pengungkapan dugaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Oleh karena itu, konflik politik internal dinilai tidak boleh memperkeruh situasi.

“Kami berharap elite dan kader Golkar bisa menahan diri dan menghindari potensi kegaduhan dalam pelaksanaan Musda. Jangan sampai kejadian tahun lalu terulang kembali hingga menimbulkan korban jiwa,” tegas Yunisa Putra.

Yunisa juga menyatakan pihaknya bersama elemen masyarakat akan turut mengawasi jalannya Musda Golkar Lampung Tengah agar berlangsung aman, tertib, dan demokratis.

“Kami cinta damai. Jangan sampai Gunung Sugih yang merupakan kampung tua justru menjadi pemicu kerusuhan akibat konflik politik,” tambahnya.

Sebagai mantan kader Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) dan mantan anggota DPRD periode 2019, Yunisa menilai Partai Golkar merupakan partai besar yang seharusnya tetap solid dan mengedepankan nilai kebersamaan.
Ia pun meminta Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar untuk lebih cermat dan melakukan evaluasi terhadap kepengurusan DPD I Provinsi Lampung dalam menyikapi dinamika di Lampung Tengah.

Sementara itu, capaian Golkar Lampung Tengah yang berhasil meraih 13 kursi legislatif pada periode sebelumnya disebut tidak terlepas dari peran Febriyantoni selaku Sekretaris DPD II Golkar.

“Jerih payah dan loyalitas kader lama seperti Febriyantoni seharusnya mendapat apresiasi. Jangan karena kepentingan sesaat, jasa mereka dilupakan,” kata Musa Ahmad.

Febriyantoni sendiri menegaskan pentingnya mempertimbangkan rekam jejak dan pemahaman peta politik lokal dalam menentukan kepemimpinan Golkar ke depan.

“Saya tidak rela Golkar Lampung Tengah dipimpin oleh kader yang belum memahami kondisi dan peta politik daerah. Lampung Tengah memiliki potensi besar dengan 28 kecamatan dan ribuan kampung,” ujarnya

Menutup pernyataannya, Yunisa Putra berharap Musda Golkar Lampung Tengah dapat berlangsung secara demokratis dan menghasilkan pemimpin yang tepat.

“Kami ingin Golkar tetap jaya di Lampung Tengah, dipimpin oleh kader berpengalaman yang mampu menjaga marwah partai serta kondusifitas daerah,” pungkasnya.

---

(S.Yanto).

Posting Komentar