Dominasi Simbolik: Kekuasaan yang Merusak Harmoni Sosial
Table of Contents
Oleh: Fandi Arsyad
Opini, Liputankeprinews.com - Di tengah kehidupan masyarakat modern maupun tradisional, fenomena dominasi simbolik semakin nyata. Simbol, entah berupa jabatan, status sosial, maupun kekayaan, sering kali tidak lagi dimaknai sebagai sarana pengabdian, melainkan alat kekuasaan untuk menekan dan memarginalkan pihak lain.
Fenomena ini menodai nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, sekaligus memperlebar jurang ketimpangan di masyarakat.
Simbol Sebagai Alat Kuasa
Jabatan tinggi, kekuatan ekonomi, hingga prestise pendidikan, sering dipakai sebagai simbol untuk mendominasi. Di tingkat pedesaan, misalnya, individu dengan modal finansial kerap menduduki posisi strategis bukan karena kompetensi, melainkan ambisi. Dengan posisi itu, mereka mengendalikan wacana publik, memanipulasi simbol, bahkan menciptakan propaganda yang mendiskreditkan pihak lain.
Praktik seperti ini tidak hanya merusak keadilan, tetapi juga menjerat masyarakat dalam ketundukan. Mereka menghormati jabatan dan simbol, namun kehilangan keberanian untuk mengoreksi kebijakan yang jelas merugikan.
Kritik Filosofis
Filsuf Yunani, Plato, telah lama mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari pemuasan ambisi duniawi. Pesan ini relevan untuk mengkritik mereka yang mengejar kekuasaan demi kepentingan pribadi.
Manusia, sebagai agen penggerak di bidang ekonomi, politik, maupun pendidikan, sejatinya memikul tanggung jawab moral: menciptakan kebaikan bersama, bukan mengeksploitasi simbol demi kepentingan sempit. Kesenangan sejati, menurut Plato, hanya mungkin tercapai ketika hidup dijalani dalam kebenaran dan keadilan.
Menuju Harmoni Sosial
Mengatasi dominasi simbolik memerlukan kesadaran kolektif. Pendidikan kritis menjadi kunci untuk membongkar manipulasi simbol dan propaganda. Pemimpin, baik lokal maupun nasional, harus kembali pada hakikat tugas mereka: melayani, bukan menguasai. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan sumber daya publik juga mutlak ditegakkan.
Lebih dari itu, masyarakat perlu berani melawan ketidakadilan. Dengan menumbuhkan solidaritas dan nilai kemanusiaan, simbol-simbol yang tadinya dipakai untuk menindas dapat diubah menjadi cerminan kebaikan bersama.
Penutup
Dominasi simbolik adalah ancaman nyata bagi harmoni sosial. Ketika jabatan, kekayaan, dan status disalahgunakan, keadilan pun terenggut. Namun, dengan kesadaran, keberanian, dan komitmen menegakkan kebenaran, kita dapat mengubah simbol dari alat penindasan menjadi sarana membangun masyarakat yang adil dan seimbang.
Sebagaimana diingatkan Plato, kebahagiaan sejati lahir bukan dari kekuasaan, melainkan dari hidup dalam kebenaran. Saatnya menjadikan simbol bukan sebagai hegemoni, melainkan pijakan untuk memajukan kesejahteraan bersama.
---
Opini Fhandy Arsyad
Editor: Redaksi Lkn.com
Posting Komentar